Senin, 12 Maret 2012

Upacara Adat Batak Mandeling

 Upacara Adat Batak Mandeling



1. Gordang Sembilan untuk upacara Sakral

Gordang Sambilan adalah gendang adat yang terdiri dari sembilan buah gendang yang relatif besar dan panjang, dan digunakan dalam ucapcara perkawinan, penabalan dan kematian. Sabe-Sabe selendang istiadat dipakai untuk upacara adat dan untuk tarian adat yang disebut Tor-Tor.

 
Margordang, Gordang Sambilan. Terlihat pemimpin gordang (Jangat) sedang menunjukka kebolehannya di hadapan ribuan masyarakat di Tarlola Sibanggor. 



Gordang Sambilan juga merupakan  warisan budaya bangsa Mandailing dan tidak ada duanya dalam budaya etnis lainnya di Indonesia. dan Malaysia. Gordang Sambilan diakui oleh ahli/pakar etnomusikologi sebagai satu ensembel muzik yang teristimewa di dunia.

Oleh karena itu, pada masa lalu, di setiap kerajaan otonom yang banyak terdapat di Mandailing harus ada satu ensambel Gordang Sambilan. Alat musik sakral itu di tempatkan di Sopo Godang (Balai Sidang Adat dan Pemerintahan Kerajaan) atau di satu bangunan khusus untuknya yang dinamakan Sopo Gordang yang terletak dekat Bagas Godang (kediaman raja). Gordang Sambilan hanya digunakan untuk upacara adat dan perayaan Hari Raya Idul Fitri.

a. Instrumen Gordang Sambilan

gambaaar: Gordang Sembilan
Gordang Sambilan terdiri dari sembilan buah gendang dengan ukuran yang relatif sangat besar dan panjang. Ukuran besar dan panjangnya kesembilan gendang tersebut bertingkat, mulai dari yang paling besar sampai pada yang paling kecil.Gordang Sambilan juga terdiri atas 9 gendang yang dinamai 3 jangat, jom, saba jae saba julu, udong-kudong, tampul tolang, tepe-tepe, dan sebagainya. Atraksi ini bisa memakan waktu sampai 1 jam dalam satu atraksi.

Tabung resonator Gordang Sambilan terbuat dari kayu yang dilumbangi dan salah satu ujung lobangnya (bagian kepalanya) ditutup dengan membran yang terbuat dari kulit lembu yang ditegangkan dengan rotan sebagai alat pengikatnya.
Untuk membunyikan Gordang Sambilan digunakan kayu pemukul.

Masing-masing gendang dalam ensambel Gordang Sambilan mempunyai nama sendiri. Namanya tidak sama di semua tempat di seluruh Madailing. Karena masyarakat Madailing yang hidup dengan tradisi adat yang demokratis punya kebebasan untuk berbeda.

Instrumen musik tradisional Gordang Sambilan dilengkapi dengan dua buah ogung (gong) besar Yang paling besar dinamakan ogung boru-boru (gong betina) dan yang lebih kecil dinamakan ogung jantan (gong jantan), satu gong yang lebih kecil yang dinamakan doal dan tiga gong lebih kecil lagi yang dinamakan salempong atau mong-mongan. Gordang Sambilan juga dilengkapi dengan alat tiup terbuat dari bambu yang dinamakan sarune atau saleot dan sepasang simbal kecil yang dinamakan tali sasayat.

b. Penggunaan Gordang Sambilan


Pada zaman sebelum Islam, Gordang Sambilan digunakan untuk upacara memanggil roh nenek moyang apabila diperlukan pertolongannya. Upacara tersebut dinamakan paturuan Sibaso (memanggil roh untuk merasuk/menyurupi medium Sibaso). Tujuannya untuk minta pertolongan roh nenek moyang, mengatasi kesulitan yang sedang menimpa masyarakat, seperti misalnya penyakit berjangkit. Gordang Sambilan digunakan juga untuk upacara meminta hujan atau menghentikan hujan yang turun terlalu lama dan menimbulkan kerusakan. Selain itu dipergunakan pula untuk upacara perkawinan yang dinamakan Orja Godang Markaroan Boru dan untuk upacara kematian yang dinamakan Orja Mambulungi.

Penggunaan Gordang Sambilan untuk kedua upacara tersebut, karena untuk kepentigan pribadi harus lebih dahulu mendapat izin dari pemimpin tradisional yang dinamakan Namora Natoras dan dari Raja sebagai kepala pemerintahan. Permohonan izin itu dilakukan melalui suatu musyawarah adat yang disebut markobar adat yang dihadiri oleh tokoh-tokoh Namora Natoras dan Raja beserta pihak yang akan menyelenggarakan upacara.

Gordang Sembilan di Marga
Selain harus mendapat izin dari Namora Natoras dan Raja untuk penggunaan Gordang Sambilan dalam kedua upacara tersebut harus disembelih paling sedikit satu ekor kerbau jantan dewasa. Jika persaratan tersebut tidak dipenuhi maka Gordang Sambilan tidak boleh digunakan.



Pemain Bombat di upacara Kematian
Untuk upacara kematian (Orja Manbulungi) yang digunakan hanya dua buah yang terbesar dari instrumen Gordang Sambilan yang digunakan, yaitu yang dinamakan Jangat. Tapi dalam konteks penyelenggaraan upacara kematian ia dinamakan Bombat.Penggunaan Gordang Sambilan dalam upacara adat disertai dengan peragaan benda-benda kebesaran adat, seperti bendera-bendera adat yang dinamakan Tonggol, payung kebesaran yang dinamakan Payung Raranagan.

Sarama / Penari Credit: M. Dolok Lubis
Gordang Sambilan juga digunakan untuk mengiringi tari yang dinamakan Sarama. Penyarama (orang yang melakukan tari Sarama) kadang-kadang mengalami kesurupan (trance) pada waktu menari karena dimasuki oleh roh nenek moyang. Demikian juga halnya dengan pemain Gordang Sabilan. Pada masa belakangan ini Gordang Sambilan selain masih digunakan oleh orang Mandailing sebagai alat musik adat yang sakral, juga sudah ditempatkan sebagai alat musik kesenian tradisional Mandailing yang sudah mulai populer di Indonesia dan bahkan di Eropa dan Amerika Serikat.

 Karena dalam beberapa lawatan kesenian tradisional Indonesia ke dua Kontinen tersebut sudah diperkenalkan Gordang Sambilan. Orang Mandailing yang banyak terdapat di Malaysia sudah mulai pula menggunakan. Gordang Sambilan untuk berbagai upacara.

Dengan ditempatkannya Gordang Sambilan sebagai instrumen musik kesenian tradisional Mandailing, maka Gordang Sambilan sudah digunakan untuk berbagai keperluan di luar konteks upacara adat Mandailing. Misalnya untuk menyambut kedatangan tamu-tamu agung, perayaan-perayaan nasional dan acara pembukaan berbagai upacara besar serta untuk merayakan Hari Raya Adul Fitri.

Parsuling dan Paronang-onang sedang menunjukkan kebolehannya dalam mengikuti irama Gordang Sambilan. Paronang-Onang ini bisa memunculkan syair yang spontan baik dalam lirik suka maupun duka. Terkadang penonton bisa dibuat tertawa terjungkal-jungkal dan bisa juga menangis mengenal isi onang-onang. Onang-Onang ini juga merupakan budaya yang mulai punah di Mandailing. Perlu dimasukkan dalam kurikulum lokal (bahasa daerah) seni yang mulai punah ini.

Manortor, merupakan seni tari tradisional. Konon kabarnya manortor ini hanya boleh dilakukan pada pesta adat dan pesta perkawinan putra atau putri raja. Terlepas dari siapa yang boleh melakukan aksi ini,




Marmoncak atau atraksi pencak silat merupakan seni beladiri yang dikenal luas di Mandailing dan Minangkabau. Untuk bisa melakukan atraksi ini, harus diimabangi dengan ketrampilan dan kelihaian yang memadai. Ada kalanya atraksi ini dilengkapi dengan senjata yang sebenarnya seperti pisau. Jika si pemain tidak lihai bisa-bisa membawa petaka baginya.
           
 

Mamodil atau menembak merupakan seni yang sudah tergolong moderen. Secara tradisional dikenal adanya aktifitas Mangultop, yaitu menembak burung dengan peralatan sederhana dari bambu sebagai laras senjata dan lidi ijuk yang dibubuhi gabus sebagai pelurunya. Tidak jarang peluru ini bisa mematikan burung dengan jarak tembak sampai 50 meter

Tidak ada komentar:

Posting Komentar